Friday, 25 May 2012

Alam dan Manusia


Pada suatui fajar aku duduk di suatu padang, melakukan percakapan dengan Alam, ketika Manusia masih beristirahat di bawah selimut tidurnya. Aku merebahkan diri di atas rerumputan hijau dan merenungkan pertanyaan: Apakah Kebenaran itu Indah? Apakah Keindahan itu Benar?

Dan dalam fikiranku, aku sadar aku telah terseret terbawa jauh dari umat manusia, dan khayalku menyingkap cadar yang menyembunyikan nuraniku. Sukmaku mengembang dan aku terbawa semakin dekat dengan Alam dan rahasianya, dan kedua telingaku terbuka untuk bahasa keajaibanya.

Ketika aku duduk tenggelam dalam fikiran, aku merasakan angin melewati dahan-dahan pepohonan, dan aku dengar sebuah keluhan seperti keluhan seorang anak yatim yang tersesat.

"Mengapa engkau mengeluh wahai angin yang lembut?" tanya ku.

Dan angin menjawab, "Karena aku berhembus dari kota yang membara oleh panas matahari, benih-benih petaka dan pencemaran melekat pada pakaian yang suci. Dapatkah engkau menyalahkan ku karena aku bersedih?"

Lalu aku melihat wajah-wajah bunga yang terisak menangis, dan mendengar ratapan mereka yang lirih. Dan aku tanya, "Mengapa engkau menangis wahai bungaku yang menawan?"

Salah satu bunga mengangkat kepalanya yang lembut dan berbisik, "Kami menangis karena Manusia akan datang dan memangkas kamu jatuh, dan menawarkan kami untuk dijual di pasar-pasar kota."

Dan bunga yang lain menambahkan, "pada malam hari, ketika kami layu, dia akan melempar kami pada tumpukan sampah. Kami menangis karena tangan kejam manusia merenggut kami dari tempat-tempat asal kami."

Dan aku dengar anak sungai terisak bagaikan seorang ibu menatap kematian anaknya, dan aku tanya, "Mengapa engkau menangis anak-sungai ku yang jernih?"

Anak sungai itu menjawab, "Aku dipaksa mengalir ke kota dimana manusia mencampakkan dan melecehkan ku karena (mereka lebih memilih) minuman yang lebih berasa dan memaksaku menerima sampah mereka, mencemari kemurnianku dan mengubah kejernihanku menjadi kotoran yang menjijikan."

Dan aku mendengar burung-burung bersedih, lalu aku tanya, " Mengapa engkau menangis burung-burungku yang cantik?"

Seekor dari mereka terbang mendekat, hinggap di ujung dahan dan berkata "anak Adam akan segera datang ke padang ini dengan senjata-senjatanya yang mematikan, mereka akan membuat perang dengan kami seolah-olah kami itu musuh mereka yang berbahaya. Kini masing-masing dari kami harus pergi jauh, walaupun kami tahu kami tidak dapat lari dari keberangan manusia. kematian akan mengikuti kami, kemanapun kami pergi.

Kini Matahari telah terbit dari puncak-puncak gunung dan menghiasi ujung-ujung pohon dengan lingkaran keemasan. Aku tatap keindahan itu dan aku tanya pada diri sendiri, "Mengapa manusia harus menghancurkan apa yang telah Alam bangun?"

Kahlil Gibran (1833-1931)