Jumat, 23 November 2012 (sebenernya udah hari Sabtu pukul satu malam)
Malam ini rasanya aku tidak ingin terlelap tidur.
Aku hawatir terjadi sesuatu dengan adik laki-lakiku, Yovi yang sedang demam tinggi.
Sehingga, bagaimanapun caranya, aku tetap membuat mata dan pikiran ini terjaga.
Dan ini adalah kesempatanku untuk lebih mendekati-Mu.
Ya. Hari ini penuh dengan ketegangan.
-Flashback-
Pukul 01.00
Malam itu, aku sangat mengantuk. Hingga aku terbangun beberapa kali karena ucapan tasbih mamah dan dilanjutkan dengan ucapan adik perempuan ku yang paling kecil dengan fasih, nampak lucu di usianya yang kini 17 bulan. Mama mengendongnya, mengayun-ayunkan dengan maksud agar ia tidur. Sembari mamah mengucap "lailahali--" dengan lantunan seperti lagu, ia yang ketika itu demam tinggi menjawab "lallah". Begitu seterusnya sampai tiga kali ucap dan diakhiri dengan kata "Muhammada Rasull?", "lallah" jawab adiku. Ah, lucunya. Tapi hal itu tidak dapat melawan rasa ngantuk yang aku rasakan. Walaupun sesekali bangun untuk memastikan mereka baik-baik saja. Bodohnya aku.
Mama, seorang yang amat-amat super. Bagaimana bisa, mama seorang diri mengurus dede Riva, Bapa dan Yovi yang sedang sakit sel=kaligus (atau mungkin tidak beristirahat karena demam yang menggangu tidur mereka). Bagaimana bisa? Aku bagaimana, nanti ketika berumah tangga? Aku siap? Entahlah. Kata itu sangat JAUH bahkan tidak ada di pikiranku saat ini. Untuk punya pacar seperti orang lain saja, aku rasa itu hal yang membuang-buang waktu dan sia-sia. Latihan saling setia? Kepercayaan? Lebih baik digunakan untuk memperbaiki diri sendiri dan keluarga. Sigh.
-----
Pagi tadi, aku mengantar Bapa ke Unit Gawat Darurat Rumahsakit terdekat dari rumah (ahh aku kira akan lebih bagus jika namanya Rumahsembuh sih, bukannya setiap hal yang positif akan mendukung ke hal positif juga, kan). Bapa mengeluh sesak nafas disertai demam yang tinggi semalam. Disusul dede Riva dan Yovi yang masih mengeluhkan hal yang sama.
Aku tidak ingin ikut masuk karena aku tidak suka tempat itu. Aku sudah mengira, pasti cek darah (sebenarnya aku punya sesuatu kebiasaan buruk yang dapat disebut phobia. ya. phobia darah atau hal hal menyakitkan lainnya yang dilihat secara langsung. Cek golongan darah saja, aku bisa pinsan di tempat apalagi di cek dan diambil sample darah. entahlah). Saat itu aku terpaksa harus masuk ruangan karena dokter memintaku pergi ke laboratorium untuk mengambil hasil dari cek tersebut. Dari hasil itu, dokter berkata bahwa Bapa boleh pulang dan dirawat dirumah saja, tetapi dua hari lagi harus kembali untuk melakukan pengecekan ulang. Begitu pula dengan Yovi, boleh pulang tetapi bed-rest selama tiga hari. Tetapi tidak untuk si kecil dede Riva, leukosit dia tinggi sehingga harus dirawat inap.
Ketika itu, aku seperti menjadi seorang external relation ER dadakan. Bagaimana tidak? Bolak-balik ke UGD, Lab, administrasi untuk mengurusi 3 orang pasien sekaligus. Yah, ternyata keep being a busy person dan pengalaman kayang karena kerjaan menumpuk itu bermanfaat. Pengalaman itu hal dan guru yang paling berharga, bukan?
Belum lama menginjakan kaki dari IGD untuk mengurus administrasi pendaftaran rawat inap dede Riva, aku dikejutkan dengan raut muka bapa yang memucat yang saat itu sedang duduk menunggu aku mengurus hal-hal tersebut. Mamah yang sedang berjalan ke arah kami, saat itu juga mengajak Bapa untuk dirawat inap juga. Aku segera memanggil dokter dan beberapa mahasiswa keperawatan mengikuti dari belakang. Bapa yang mungkin saat itu tidak kuat menahan sakitnya seketika pinsan. Ah, aku gemetar namun lemas. Aku harus bagaimana ini?????????
Dokter melakukan tindakan khusus dengan segala peralatan rumah sakitnya. Oksigen dan osiloskop (yah hanya itu nama-nama instrumentasi kedokteran yang aku tahu) dan beberapa alat yang tidak aku ketahui namanya dipasangkan di dada Bapa. Yang pasti seperti di sinetron-sinetron Indonesia. Ah Tuhankuuuuuuuu apa ini?? kenapa begini?? Bapa bangun!!. Pikiranku kalap.
Saat itu juga teman satu kantor Bapa datangan. Ah banyak sekali. Sepenting itukah peran Bapa di perusahaan? Terimakasih Tuhan, disaat seperti ini aku masih dapat berucap syukur, Alhamdulillah. Ah tapi bapa sulit sekali siuman. Aku tidak kuat untuk berlama-lama disana sehingga aku putuskan untuk meninggalkan ruangan UGD dan lebih memilih menemani Yovi yang saat itu lemas juga di duduk di bangku koridor sembari menyuapi sarapannya.
"Hari ini, cukup jelas.
Kejadian hari ini membuat tekad ku semakin kuat. Impian. Harapan. Usaha. Kerja keras. dan TANGGUNG JAWAB sebagai anak sulung membuat semuanya kian nyata."
Memang benar sudah. Tidak ada waktu untuk berleha-leha lagi. Walaupun berubah menjadi orang yang lebih baik itu sulit, tapi aku akan terus berusaha. Aku tidak ingin menjadi anak yang menyia-nyiakan kasih sayang orang tua yang seharusnya dibalas dengan kesolehan, prestasi dan hal apapun yang dapat membahagiakan orang tua.
Tuhan. Sekiranya Engkau mendengar doaku, aku mohon :
1. Jadikan aku sebagai anak yang selalu taat pada perintah agama, karena dengan hal itu aku akan selalu taat kepada orang tuaku, serta terhindar dari hal-hal yang menyimpang demi cita-cita membahagiakan mereka.
2. Aku anak sulung, biarkan aku menghabiskan sisa waktu usia lajangku dengan hal-hal positif agar aku dapat memaksimalkan usia produktif ini untuk bekerja keras demi kebahagiaan orang tuaku. Sebelum nantinya aku harus taat dan patuh kepada seorang lain diluar sana yang akan menemani hingga tutup usia. (bukankah diri-Mu menjanjikan syurga untuk para pemuda yang menjaga kesuciannya? Amin)
3. Dekatkan aku dengan orang-orang yang pandai bersyukur, Tuhan. Karena mereka selalu mengajarkan kesederhanaan di setiap kesuksesannya.
4. Tuhanku yang maha pengasih lagi maha penyayang, maha pemurah dengan semua rezki yang di limpahkan-Nya, aku mohon sembuhkan semua rasa sakit yang dirasakan Bapa, Yovi dan dede Riva. Serta kuatkan lah Mamah dalam setiap langkah menjadi istri yang solihah. Aku mohon, karena sesungguhnya kesempurnaan hanya milik-Mu semata.
Saturday, 24 November 2012
Thursday, 22 November 2012
Self Evaluation - #Part1
Hari ini, Rabu 21 November 2012
Hari ini masih dikuasai oleh hujan, seperti hari-hari sebelumnya yang seolah memberi tanda bahwa musim hujan di Indonesia telah tiba. Selalu seperti ini, setelah adzan duhur hingga pukul sembilan malam hujan selalu mengguyur kota Bandung. Kota yang kata beberapa teman asing ku dari negara subtropis, merupakan kota yang sejuk untuk ditempati. Ya. Memang sejuk nan cantik, cantik dengan hedonisme para penduduknya. Karena semakin banyak saja kendaraan roda empat dan dua yang di kreditkan dengan mudah.
Sayang sejutakali sayang, jika dibandingkan dengan negara-segera-maju yang sempat aku kunjungi, China. Orang-orang disana lebih menghargai etos kerja, disiplin dan transportasi umum dibandingkan kehedonisme-an seperti di negeri tercinta kita ini. Ya. Itu menurutku. Apa menurutmu?
Tapi bukan itu yang ingin aku ceritakan. Hari ini, seperti biasa. Aku banyak ditemani dengan scooter ku. Karena itu satu-satunya modal awal keseharianku sekaligus teman kencan yang selalu menemaniku kemanapun aku pergi, tanpa harus berburu waktu dan memicu amarah karena kemacetan kota.
Hari ini, ada satu pelajaran yang membuatku mengerti dan amat malu. Seringkali aku bertemu dengan abang-abang (kalau disini sih lebih familiar dengan kata mang-mang) pedagang keliling. Kebanyakan dari mereka berusia seperti ayahku. Biasanya, mereka berjalan mendorong roda dan menjajakan dagangannya dengan penuh semangat.
Tetapi hari-hari ini hujan tak kunjung berhenti. Sehingga apa yang aku lihat seringkali seperti menamparku. Aku melintasi mereka satu persatu. Mang bakso tahu, cakue, martabak, bapak tua renta penjual koran dan mang-mang lainnya yang menjajakan segala macam makanan demi keluarganya, berhujan-hujanan.
Berhujan-hujanan, kedinginan. Seketika aku malu, seperti ditampar karena ketidaksadaranku.
Tuhan, akhir-akhir ini aku seringkali mengeluarkan uang untuk hal yang tidak terlalu penting. Tuhan, aku seringkali kongkow di beberapa tempat yang bisa disebut memiliki harga standar ke atas sedangkan aku jarang bersedekah.
Tuhan, aku tahu itu uangku walaupun kerapkali mama berkata "Teteh jangan boros. Harus inget pas teteh cari uang itu, teteh udah ngorbanin waktu, tenaga dan pikiran teteh. Teteh harus malu sama Alloh yang udah ngasih rezeki sama kita ketika diluar sana banyak pisan orang yang kelaparan. Teteh harus malu sama Alloh" tetap saja aku tergiur dengan kehidupan dunia dan seringkali lupa bahwa dunia ini fana.
Tuhan, aku sudah jarang lagi berkumpul dengan orang-orang yang soleh.
Tuhan, aku kangen aku yang dua tahun lalu, yang rajin membaca buku-buku bermanfaat hingga menjadikan diriku lebih bermanfaat. Lalu?
---Lalu, jawabannya ada pada prilaku dirimu. Mau dibawa kemana?
Hari ini masih dikuasai oleh hujan, seperti hari-hari sebelumnya yang seolah memberi tanda bahwa musim hujan di Indonesia telah tiba. Selalu seperti ini, setelah adzan duhur hingga pukul sembilan malam hujan selalu mengguyur kota Bandung. Kota yang kata beberapa teman asing ku dari negara subtropis, merupakan kota yang sejuk untuk ditempati. Ya. Memang sejuk nan cantik, cantik dengan hedonisme para penduduknya. Karena semakin banyak saja kendaraan roda empat dan dua yang di kreditkan dengan mudah.
Sayang sejutakali sayang, jika dibandingkan dengan negara-segera-maju yang sempat aku kunjungi, China. Orang-orang disana lebih menghargai etos kerja, disiplin dan transportasi umum dibandingkan kehedonisme-an seperti di negeri tercinta kita ini. Ya. Itu menurutku. Apa menurutmu?
Tapi bukan itu yang ingin aku ceritakan. Hari ini, seperti biasa. Aku banyak ditemani dengan scooter ku. Karena itu satu-satunya modal awal keseharianku sekaligus teman kencan yang selalu menemaniku kemanapun aku pergi, tanpa harus berburu waktu dan memicu amarah karena kemacetan kota.
Hari ini, ada satu pelajaran yang membuatku mengerti dan amat malu. Seringkali aku bertemu dengan abang-abang (kalau disini sih lebih familiar dengan kata mang-mang) pedagang keliling. Kebanyakan dari mereka berusia seperti ayahku. Biasanya, mereka berjalan mendorong roda dan menjajakan dagangannya dengan penuh semangat.
Tetapi hari-hari ini hujan tak kunjung berhenti. Sehingga apa yang aku lihat seringkali seperti menamparku. Aku melintasi mereka satu persatu. Mang bakso tahu, cakue, martabak, bapak tua renta penjual koran dan mang-mang lainnya yang menjajakan segala macam makanan demi keluarganya, berhujan-hujanan.
Berhujan-hujanan, kedinginan. Seketika aku malu, seperti ditampar karena ketidaksadaranku.
Tuhan, akhir-akhir ini aku seringkali mengeluarkan uang untuk hal yang tidak terlalu penting. Tuhan, aku seringkali kongkow di beberapa tempat yang bisa disebut memiliki harga standar ke atas sedangkan aku jarang bersedekah.
Tuhan, aku tahu itu uangku walaupun kerapkali mama berkata "Teteh jangan boros. Harus inget pas teteh cari uang itu, teteh udah ngorbanin waktu, tenaga dan pikiran teteh. Teteh harus malu sama Alloh yang udah ngasih rezeki sama kita ketika diluar sana banyak pisan orang yang kelaparan. Teteh harus malu sama Alloh" tetap saja aku tergiur dengan kehidupan dunia dan seringkali lupa bahwa dunia ini fana.
Tuhan, aku sudah jarang lagi berkumpul dengan orang-orang yang soleh.
Tuhan, aku kangen aku yang dua tahun lalu, yang rajin membaca buku-buku bermanfaat hingga menjadikan diriku lebih bermanfaat. Lalu?
---Lalu, jawabannya ada pada prilaku dirimu. Mau dibawa kemana?
Tuesday, 13 November 2012
Syukurku Untuk Pagi Yang Cerah Di Hari Ini
Kan kuceritakan kepadamu sebuah tempat yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya. Ya. Hari ini aku dan temanku "lebih tepatnya boss-ku sih" mengunjungi sebuah tempat yang orang-orang biasa menyebutnya dengan sebutan Sekolah Luar Biasa. Sekolah Luar Biasa -C Purnama Asih yang berada tepat di sebelah gerbang kompleks perumahan Setra Duta ini nampak sederhana. Tidak seperti SLB Negeri yang seringkali aku lewati di Cicendo, sekolah ini hanya memiliki 50 siswa tetap mulai dari TK hingga SMA. Aku sendiripun belum mengerti banyak tentang perbedaan SLB A B C D, ternyata itu berbeda ya!
Program Universal Children Education yang akan dilaksanakan di bulan Januari tahun depan cukup membuat kami cekatan untuk mencari sekolah-sekolah tidak mampu, panti asuhan anak dan sekolah luar biasa semacam itu. Maklum. AIESEC di Universitas kami masih baru. Sangat baru. Bahkan kami belum mengetahui bagaimana cara ter-jitu untuk men-engage para petinggi-petinggi di kampus kami agar mempermudah birokrasi. Tapi hal itu akan ku ceritakan nanti.
Yah. Cukuplah kami berjalan dulu. Talk less do more. Act. Act. Move. Semoga setelah step ini, semboyan Do less achieve more pun dapat kita kibarkan. :D
Kembali ke SLB yang kami kunjungi, ada perasaan haru dan khawatir dalam diri kami berdua. Lebihnya aku, takut. Mereka, berteriak. Diam. Bermain ayunan. Salah seorang dari mereka menjambak rambut Dwi. Menggigit. Ya! menggigit ku >O<. Bagaimana ini? bagaimana project kami nanti???
Tapi, ada yang membuat aku terkesimak. Aku melihat seorang perempuan sebayaku, berjilbab, berdiri di dekat mushala, tepat arah jam 12. Dan seketika aku berkata dalam hati, CANTIK! HEBAT! Kamu bisa meng-handle anak-anak ini. Canda Tawa dan Ceria terlihat dari sikap mereka walau sesekali ada yang berteriak amat menakutkan (menakutkan menurutku). Kamu, hebat sekali.
Dan tahukah, seseorang yang selalu menginspirasiku pernah berkata "Change is never easy. You fight to hold on. You fight to let go". Memang sulit untuk berubah menjadi lebih baik. Dua tahun aku menggunakan jilbab ini, semacam pertarungan dengan diri sendiri. Sifat Easygoing dan Global-Mindset ini sedikit menggoyahkan. Naik. Turun. Naik lagi. Turun lagi. Selalu mencoba mengerti setiap hal, setiap masalah, mengapa begitu begini begitu begini?.
Kembali ke SLB yang kami kunjungi, ada perasaan haru dan khawatir dalam diri kami berdua. Lebihnya aku, takut. Mereka, berteriak. Diam. Bermain ayunan. Salah seorang dari mereka menjambak rambut Dwi. Menggigit. Ya! menggigit ku >O<. Bagaimana ini? bagaimana project kami nanti???
Tapi, ada yang membuat aku terkesimak. Aku melihat seorang perempuan sebayaku, berjilbab, berdiri di dekat mushala, tepat arah jam 12. Dan seketika aku berkata dalam hati, CANTIK! HEBAT! Kamu bisa meng-handle anak-anak ini. Canda Tawa dan Ceria terlihat dari sikap mereka walau sesekali ada yang berteriak amat menakutkan (menakutkan menurutku). Kamu, hebat sekali.
Dan tahukah, seseorang yang selalu menginspirasiku pernah berkata "Change is never easy. You fight to hold on. You fight to let go". Memang sulit untuk berubah menjadi lebih baik. Dua tahun aku menggunakan jilbab ini, semacam pertarungan dengan diri sendiri. Sifat Easygoing dan Global-Mindset ini sedikit menggoyahkan. Naik. Turun. Naik lagi. Turun lagi. Selalu mencoba mengerti setiap hal, setiap masalah, mengapa begitu begini begitu begini?.
Dan hari ini aku temukan satu jawaban. Cantik itu bukan karena wajah kamu sebening apa, bajumu se-keren apa. Cantik itu dapat terlihat dari apa yang dapat kamu lakukan untuk berbagi terhadap sesama. BERSYUKURLAH~
Selain itu, SLB ini mengingatkanku kepada sebuah buku yang berjudul "Moga Bunda Disayang Alloh". Ya. Buku ini penuh dengan rasa haru dan syukur di setiap paragrafnya.
Sekian~
Sekian~
Subscribe to:
Comments (Atom)