Thursday, 22 November 2012

Self Evaluation - #Part1

Hari ini, Rabu 21 November 2012

Hari ini masih dikuasai oleh hujan, seperti hari-hari sebelumnya yang seolah memberi tanda bahwa musim hujan di Indonesia telah tiba. Selalu seperti ini, setelah adzan duhur hingga pukul sembilan malam hujan selalu mengguyur kota Bandung. Kota yang kata beberapa teman asing ku dari negara subtropis, merupakan kota yang sejuk untuk ditempati. Ya. Memang sejuk nan cantik, cantik dengan hedonisme para penduduknya. Karena semakin banyak saja kendaraan roda empat dan dua yang di kreditkan dengan mudah.


Sayang sejutakali sayang, jika dibandingkan dengan negara-segera-maju yang sempat aku kunjungi, China. Orang-orang disana lebih menghargai etos kerja, disiplin dan transportasi umum dibandingkan kehedonisme-an seperti di negeri tercinta kita ini. Ya. Itu menurutku. Apa menurutmu?

Tapi bukan itu yang ingin aku ceritakan. Hari ini, seperti biasa. Aku banyak ditemani dengan scooter ku. Karena itu satu-satunya modal awal keseharianku sekaligus teman kencan yang selalu menemaniku kemanapun aku pergi, tanpa harus berburu waktu dan memicu amarah karena kemacetan kota. 


Hari ini, ada satu pelajaran yang membuatku mengerti dan amat malu. Seringkali aku bertemu dengan abang-abang (kalau disini sih lebih familiar dengan kata mang-mang) pedagang keliling. Kebanyakan dari mereka berusia seperti ayahku. Biasanya, mereka berjalan mendorong roda dan menjajakan dagangannya dengan penuh semangat. 


Tetapi hari-hari ini hujan tak kunjung berhenti. Sehingga apa yang aku lihat seringkali seperti menamparku. Aku melintasi mereka satu persatu. Mang bakso tahu, cakue, martabak, bapak tua renta penjual koran dan mang-mang lainnya yang menjajakan segala macam makanan demi keluarganya, berhujan-hujanan.

Berhujan-hujanan, kedinginan. 
Seketika aku malu, seperti ditampar karena ketidaksadaranku. 


Tuhan, akhir-akhir ini aku seringkali mengeluarkan uang untuk hal yang tidak terlalu penting. Tuhan, aku seringkali kongkow di beberapa tempat yang bisa disebut memiliki harga standar ke atas sedangkan aku jarang bersedekah. 


Tuhan, aku tahu itu uangku walaupun kerapkali mama berkata "Teteh jangan boros. Harus inget pas teteh cari uang itu, teteh udah ngorbanin waktu, tenaga dan pikiran teteh. Teteh harus malu sama Alloh yang udah ngasih rezeki sama kita ketika diluar sana banyak pisan orang yang kelaparan. Teteh harus malu sama Alloh" tetap saja aku tergiur dengan kehidupan dunia dan seringkali lupa bahwa dunia ini fana.


Tuhan, aku sudah jarang lagi berkumpul dengan orang-orang yang soleh. 

Tuhan, aku kangen aku yang dua tahun lalu, yang rajin membaca buku-buku bermanfaat hingga menjadikan diriku lebih bermanfaat. Lalu?

---Lalu, jawabannya ada pada prilaku dirimu. Mau dibawa kemana? 

No comments:

Post a Comment