Wednesday, 16 October 2013

FRIENDSHIP BELIEVER

Sebagai seorang yang amat mencintai pertemanan baik dan amat membenci permusuhan memang tidak mudah untuk hidup di dunia yang katanya kejam ini. Tapi, bagi saya yang menjuluki diri sendiri sebagai "friendship-believer" itu dirasa amat mudah untuk dijalankan. Sedari bersekolah di Sekolah Dasar, saya adalah seorang yang selalu di nomer terakhirkan di geng saya. Hingga sampai saat SMP dan SMA pun saya selalu di nomer terakhirkan dalam urutan geng. Nah loh? Kok? 
Jadi begini, ternyata jawabannya saya dapatkan dua tahun terakhir ini di bangku perkuliahan. Pernah ketika saya SMA dan kebetulan saya memegang sebuah ekskul teater di SMA saya untuk satu periode. Ekskul teater ini sangat-sangat menjunjung tinggi persaudaraan. Karena di setiap pementasan, perlombaan dan event-event yang kami isi, semua kami lakukan penuh dengan totalitas hingga rasa kekeluargaan pun terbentuk dengan sendirinya. Sayangnya, saya yang pada saat itu menjabat sebagai ketua, dihadapkan oleh sebuah permasalahan kubu-kubu-an atau bahasa gaulnya yaitu geng-geng-an. 
Saya yang pada saat itu ada diantara geng A dan geng B yang dimana kami merasa berbeda dikarenakan gaya hidup yang berbeda. Pada saat itu saya dihadapkan dengan permasalahan yang tak kunjung usai, hingga pada akhirnya yang bertahan disana adalah orang-orang yang mau belajar dan bersikap sederhana. Meskipun pada akhirnya periode angkatan saya sudah tidak banyak berkecimpung di sana, tetapi hingga kini tali pertemanan kami tetap terjalin secara baik dan saya dapat mengambil pelajaran dari setiap serpihan kejadian yang membangun hidup saya hingga saat ini.
Dari hal tersebut saya bisa menyimpulkan bahwa ternyata saya adalah seseorang yang tidak suka terikat dengan satu kubu pertemanan dekat atau yang disebut dengan geng. Kenapa? Karena saya selalu merasa bahwa itu akan menimbulkan rasa dan sikap kesenjangan dan kecemburuan sosial yang akan menutup gerbang pertemanan baik dengan yang lainnya. Sebenarnya saya telah dihadapkan dengan keadaan seperti ini semenjak saya berumur 5 tahun, yang dimana lingkungan tempat tinggal saya merupakan tempat tinggal warga menengah kebawah. Di keadaan keluarga saya yang dibilang berkecukupan, saya sudah terbiasa bermain dengan anak-anak lingkungan rumah dan saya dipaksa untuk berprestasi di lingkungan sekolah. Sehingga jiwa sosial saya terlatih dengan sendirinya.
Ada sebuah lagu anak-anak yang selalu secara spontan hadir dalam setiap aktifitas saya. Begini liriknya.
"Oh amelia gadis cilik lincah nian
Tak pernah sedih, riang selalu sepanjang hari
Oh amelia gadis cilik ramah nian
Dimana-mana amelia temannya banyak
Oh amelia banyak sungguh kelakuanmu
Tak jemu-jemu tanya sana tanya sini
Oh amelia banyak sungguh gaya gerakmu
Menari-nari sambil bernyanyi senang sekali"
Sedari kecil, saya selalu terobsesi dengan lagu ini. Walaupun saat ini saya sudah beranjak dewasa bahkan memang harus disebut dewasa, saya selalu secara spontan menyanyikan lagu ini dalam hati. 
HATE-ERS
Hate-ers atau para pembenci akan selalu ada di lingkungan dimana kita bersosialisasi. Sahabat dekat saya pernah bilang begini, "Sebaik apapun perilakumu, Se-soleh apapun kamu, tetap akan ada yang tidak suka. Karena fitrah manusia".
----- Sampai saat ini, si friendship-believer ini tidak berharap begitu besar untuk selalu memiliki pertemanan baik yang banyak. Si friendship-believer ini hanya berharap SATU kepada Tuhannya yang dimana ia percaya bahwa Tuhanyalah yang Maha Pemberi Segalanya.
"Mulut yang saya miliki adalah milik-Mu. Otak yang saya miliki adalah milik-Mu. Ilmu yang saya miliki adalah ilmu-Mu. Semuanya kepunyaan-Mu. Namun, jika teman-teman baiku membutuhkan setitik ilmu yang KAU miliki dan ini ada padaku, maka aku mohon jadikan lah aku sebagai kepanjangan tangan-Mu, Tuhanku. Jadikan aku salah satu bagian dari pasukan-Mu yang dapat menebar manfaat bagi umat. Dimana aku akan selalu kuat dihadapan mereka namun lemah dihadapan-Mu. Itu doaku." 

No comments:

Post a Comment